Tinggal di rumah mertua

Setelah menikah langsung punya rumah? Yah ada yang langsung punya pun ada yang usaha terlebih dahulu. Seperti saya dan suami. Setelah kami menikah, kami tidak langsung tinggal di rumah sendiri melainkan tinggal di rumah mertua. Tentu saja ada plus minusnya.

Oh iya sebelum lanjut bahas rumah mertua saya sharing sedikit mengenai respon pengunjung blog Jurnal Mama yang telah membaca tulisan saya mengenai pengalaman periksa kandungan di Puskesmas. Ternyata pengalaman tidak menyenangkan yang saya rasakan juga dialami ibu lainnya. Semoga saja ada peningkatan pelayanan dari nakes yang melayani ibu hamil.

Nah kembali lagi soal plus minus tinggal di rumah mertua. Jadi, tinggal di mertua itu ada kekurangan dan kelebihannya. Tapi, sebelumnya saya sharing dulu adab tinggal di rumah mertua.

Adab Tinggal di Rumah Mertua

Sebenarnya baik tinggal di rumah mertua atau orangtua sendiri tentu harus ada adab yang diikuti apalagi setelah menikah terutama saat berada di rumah mertua entah untuk jangka waktu yang lama ataupun sementara.

Menghargai Adat dan Tradisi Mertua

Setiap orangtua pasti memiliki kebiasaan atau tradisi yang berbeda apalagi saat menikah dengan seseorang yang berbeda suku, budaya bahkan agama.

Sebagai menantu, sudah seharusnya menghargai adab dan tradisi yang berbeda di rumah mertua.

Hargai Mereka

Tidak perlu memaksa untuk menuruti semua kemauan mertua agar terlihat baik di mata mereka, cukup dengan menghargai mereka maka kita sebagai menantu juga akan dihargai.

Bantu Semampunya

Jangan samakan saat tinggal di rumah orangtua. Saat berada di rumah orangtua sendiri mungkin kita bisa bertingkah semaunya, kerja dan bantu orangtua tergantung kemauan. Tapi, saat berada di rumah mertua, bantulah semampu yang kita bisa.

Bersikap Netral Jika Ada Masalah

Tak bisa dipungkiri jika seatap dengan mertua pasti ada aja masalah yang kerap terjadi. Agar masalah tidak bertambah sebaiknya cari aman aja yaitu bersikap netral saat terjadi masalah. Saat saya tinggal di rumah mertua pun begitu. Entah itu masalah sepele atau besar sekalipun, tidak perlu ikut campur. Terkecuali jika memang masalah itu melibatkan kita.

Berbaik Sangka

Mungkin hal ini yang biasa terjadi antara menantu perempuan dengan mertua perempuan. Terkadang sebagai menantu, kita berburuk sangka kepada ibu mertua. Contoh nih saat mertua saya mengambil anak saya yang baru lahir untuk dimandi, saya langsung badmood karena berprasangka bahwa ibu mertua saya tidak mempercayakan saya memandikan anak saya sendiri.

Seiring berjalannya waktu saya jadi paham bahwa itu bentuk kasih sayang ibu mertua saya dan tidak ingin membiarkan saya kelelahan. Jadi, memang diperlukan berbaik sangka untuk menghindari kesalahpahaman.

Plus Minus Seatap dengan Mertua

Kelebihan dan kekurangan tinggal serumah dengan mertua

Siapa bilang hanya derita yang didapat saat seatap dengan mertua atau hanya bahagia yang dirasakan di rumah mertua. Big no!  Tinggal seatap dengan mertua ada kelebihan dan kekurangannya kok.

Kelebihan Serumah dengan Mertua

Ini menurut pengalaman pribadi yah karena setiap orang memiliki pengalaman yang berbeda-beda.

1.      Dekat dengan keluarga suami

Saat tinggal di rumah mertua, kita bisa memanfaatkan setiap momen untuk mengenal dekat keluarga suami mulai dari ipar, tante om, kakek dan nenek suami hingga keluarga lainnya. Sisi positifnya kita bisa membangun kedekatan dengan keluarga suami. Kalau ada apa-apa nih misalnya sama suami, kita bisa mendapatkan pembelaan atau paling tidak keluarga suami langsung memberikan kita dukungan.

2.      Saat punya anak, ada mertua yang menemani

Ketika orangtua saya masih di tanah rantau, mertualah yang paling banyak membantu saat saya menjadi new mom. Ada ibu mertua yang sigap membantu mengurus anak, bahkan saking sayangnya kepada cucu, mertua tidak rela jika anak saya menangis untuk waktu yang lama.

3.      Tidak perlu capek mengurus rumah

Saya merasa beruntung ketika seatap bersama mertua karena mereka tipikal mertua yang tidak menekan menantu apalagi anaknya sendiri. Soal mengurus rumah bisa dibilang saya tidak banyak terlibat apalagi setelah melahirkan. Kalau di rumah sendiri yah sudah pasti kita merasa kewalahan karena mengurus semuanya seorang diri.

4.      Belajar masak dan tidak mager alias malas gerak

Kalau di rumah mertua tuh mau tidak mau biasanya menantu harus pintar masak meskipun ada mertua yang tidak menyuruh apalagi nyinggung menantu soal memasak. Sisi positifnya adalah saat di rumah mertua, kita terpacu motivasinya untuk belajar memasak jika sebelumnya tidak bisa, selain itu kita belajar untuk tidak mager alias malas gerak. Misalnya tidak menunda-nunda  mencuci piring.

Kekurangan Serumah dengan Mertua

Seatap dengan mertua juga memiliki kekurangan. Beberapa di antaranya sebagai berikut;

1.      Tidak bebas

Lain halnya saat punya rumah sendiri, ketika berada di rumah mertua kita merasa sungkan untuk melakukan segala sesuatu yang diinginkan.

2.      Susah mendisiplinkan anak

Beberapa mertua akan ikut campur dalam mengasuh anak apalagi jika anak yang dimiliki adalah cucu pertamanya. Terutama saat pola asuh kita berbeda dengan mertua, jika seatap dengan mertua tentu saja kita akan merasa kesulitan mendisiplinkan anak.

Apalagi yah kekurangannya? Hahaha…  Sejauh pengalaman pribadi hanya ini sih. Selebihnya bisa sobat JuMa tambahkan sendiri yah di kolom komentar.

Penutup

Pernikahan adalah ibadah yang panjang. Menurut saya kenapa dikatakan ibadah yang panjang, karena setelah menikah akan ada banyak ujian kesabaran yang akan menghadang. Termasuk lika-liku setelah berumah tangga dan tinggal di rumah mertua.

So, apapun kondisi sobat JuMa hari ini, mari tetap semangat!