Puskesmas Tanete terletak di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Daerah Bulukumba adalah tempat kelahiran ibu saya. Disinilah saya dilahirkan dan dibesarkan. Setelah menikah, saya mempersiapkan kelahiran anak pertama di Bulukumba. Rupanya saat hamil anak kedua, saya masih melakukan periksa kandungan di Puskesmas Tanete, Bulukumba.

Ada pengalaman menyenangkan pun ada yang kurang mengenakkan hati. Saya ingin berbagi pengalaman periksa kandungan terutama saat mengandung anak kedua. Ohiya untuk persiapan melahirkan sendiri saya sebetulnya tidak lagi di Bulukumba, melainkan di kampung suami. Akan tetapi, ibu saya sedang sakit, jadi saya merawat beliau beberapa bulan dan melakukan periksa kandungan di puskesmas Tanete.

Periksa kandungan di Puskesmas tanete

Tulisan ini saya buat dengan maksud mengabadikan perjalanan saya sebagai ibu yang membesarkan anak-anak sejak dalam kandungan dan insya Allah jika panjang umur sampai anak saya dewasa.

Selain itu, tulisan ini juga dibuat dengan maksud mereview pelayanan puskesmas Tanete, Bulukumba yang mungkin bisa menjadi masukan atau bahan pertimbangan untuk ibu hamil yang sedang mencari tempat periksa kandungan.

Cara Memeriksa Kandungan di Puskesmas Tanete

Tata cara memeriksa kandungan di puskesmas Tanete saya hamil anak pertama dan kedua bagi saya tidak jauh berbeda. Sama halnya dengan pelayanan umum lainnya. Ibu hamil masuk ke puskesmas terlebih dahulu kemudian melakukan pendaftaran di bagian loket.

Disini tidak ada pengambilan nomor antrian, jadi berada di ruang administrasi kita hanya perlu menyetorkan kartu tanda penduduk dan kartu BPJS jika ada.

Setelah menyerahkan KTP dan kartu BPJS kurang lebih 15 menit saya menunggu giliran untuk dipanggil. Salah seorang petugas administrasi menanyai saya beberapa hal untuk keperluan data. Jika sudah selesai, saya di suruh untuk menuju ruang KIA/KB.

Fasilitas dan Layanan Kesehatan Puskesmas Tanete, Bulukumba

Saat hamil anak kedua di usia kandungan sekitar 3 bulan, saya melakukan periksa kandungan di puskesmas Tanete. Ternyata ruang KIA-nya sudah berganti tempat. Jika dulu saat kehamilan pertama, ruang KIA-nya terletak tak jauh dari ruang laboratorium, di kehamilan kedua ini ruang KIA puskesmas Tanete pindah di dekat musholla dan memiliki ruangan tersendiri sehingga lebih luas dan nyaman.

Bagi saya, fasilitasnya biasa saja seperti fasilitas puskesmas pada umumnya. Nah untuk pelayanan tenaga medisnyalah atau lebih spesifik yakni para bidan yang melayani pada saat itu, saya ingin berbagi sedikit cerita karena ini pengalaman pribadi yang kurang menyenangkan.

Ada Apa dengan Bidan yang Bertugas di Puskesmas Tanete?

Di sini perlu saya klaim terlebih dahulu bahwa pelayanan tenaga medis yang saya maksud hanyalah bidan yang kebetulan melayani pada saat saya periksa kandungan entah kebetulan atau bagaimana selama dua kali saya memeriksa kandungan di kehamilan kedua pelayanannya sama.

Apakah bidan yang melayani di ruang KIA lebih dari 6 orang?

Sewaktu hamil anak pertama dan masih di Kalimantan, saat masuk di ruang KIA, bidan yang melayani saya hanya berjumlah dua orang. Satu bidan inti yang memberikan konsultasi, dan satunya lagi yang memeriksa perut dan tekanan darah saya.

Tapi lain halnya di puskesmas Tanete, baik dikehamilan pertama dan kedua selama saya memasuki KIA, selalu banyak bidan di dalamnya, jika saya hitung jumlahnya sekitar 6 orang bahkan lebih.

Sebenarnya terserah mereka sih, hanya saja sebagai ibu hamil yang datang memeriksa agar risih jika jumlah bidan di ruang KIA terlalu banyak. Saya jadi bingung, mana bidan inti yang akan memberikan konsultasi, mana yang bertindak sebagai asisten bidan memeriksa tekanan darah dan perut saya.

Ibu hamil hanya diperiksa secara formalitas

Baik saya berani katakan ini karena memang sudah berapa kali saya memeriksa di puskesmas Tanete rasanya hanya formalitas saja. Mengapa demikian? Seperti yang saya katakan di atas, terlalu banyak bidan yang ada di ruang KIA, sehingga tidak jelas siapa yang menangani administrasi/data dan bidan yang melakukan pemeriksaan secara menyeluruh hingga konsultasi.

Saya hanya akan bahas pengalaman periksa kandungan di kehamilan kedua. Saat kedatangan pertama, saya tidak diberikan buku berwarna pink dengan alasan domisili saya sudah berpindah. Kemudian saya langsung diperiksa tekanan darah, berat badan dan tinggi badan. Lingkar perut saya tidak dibaringkan melainkan hanya diperiksa sambil berdiri. Ini wajar tidak sih?

Ohiya sejujurnya saya amat tersinggung dan merasa sangat drop ketika keluar dari ruang KIA. Tahu kenapa? Mereka menilai saya tidak bisa lahiran normal karena bertubuh pendek. Hampir semua bidan yang ada di ruangan itu seolah berlomba dengan keyakinannya bahwa saya tidak bisa lahiran normal karena bertubuh pendek.

Sesak dada saya ini kecewa dengan bahasa yang mereka gunakan. Ada satu bidan yang tampaknya sudah senior terus menanyai saya dengan tatapan sinis tentang anak pertama. Saya jelaskan di anak pertama saya lahiran normal dengan berat badan normal. Tahu apa reaksinya?

Ia seperti seolah mengolok saya dengan mengobrol dengan bidan lain yang ada disitu, bahwa apa yang saya katakan keliru, dia tidak percaya anak pertama saya lahir dengan berat badan normal.

Terakhir sebelum saya meninggalkan ruangan, para bidan-bidan itu hanya menyarankan saya agar tidak makan banyak nasi putih. Tanpa penjelasan kenapa dan bagaimana solusinya.

Hal yang membuat hati saya perih adalah ucapan mereka yang membuat mental saya jatuh. Bagi saya, seandainya pun teori yang kalian pelajari itu 99% akurat bahwa ibu hamil bertubuh pendek tidak bisa lahiran normal paling tidak ucapan bidan pada saat itu seharusnya jauh lebih terdidik dan enak didengar dengan menggunakan bahasa yang halus sembari diberikan saran dan semangat, bukan malah sebaliknya seperti ucapan seseorang yang tidak punya pendidikan, tidak enak didengar.

Pemeriksaan kedua kalinya karena terpaksa datang

Selama kurang lebih dua bulan merawat ibu di Bulukumba usia kandungan saya sudah memasuki trimester tiga. Hari itu sudah tiba jadwalnya saya memeriksa kandungan dan tidak mungkin dilakukan di kampung suami. Dengan rasa trauma karena pelayanan terakhir yang saya dapatkan di Puskesmas Tanete, saya pun datang lagi memeriksakan diri, berharap akan bertemu dengan bidan yang jauh lebih ramah.

Apa yang terjadi setelah saya sampai di ruang KIA untuk kedua kalinya? Jumlah bidan masih tetap sama. Hanya saja sudah ada sedikit kejelasan siapa yang bertugas saat itu. Ada bidan inti yang memberikan konsultasi, ada juga bidan yang memeriksa tekanan darah dan perut, satu lagi bidan yang mengurus administrasi. Bidan-bidan lainnya yang ada pada saat itu saya tidak tahu tugas mereka apa. Selama menunggu giliran diperiksa saya hanya mendengar mereka seperti kelompok buibu yang sedang nongkrong bergosip.

Mental saya kembali jatuh

Sewaktu menunggu giliran, sekitar 3 ibu hamil yang nomor antriannya di depan saya. Ada yang baru datang periksa ada juga yang sudah berkali-kali. Tapi tinggi badan mereka jelas lebih tinggi dari saya mungkin sekitar 155 cm atau lebih sementara tinggi badan saya dibawah angka itu.

Ketiga ibu hamil tersebut menurut saya mendapatkan pelayanan yang teratur, mulai dari administrasi, periksa tekanan darah hingga konsultasi. Mereka diberikan masukan harus ini dan itu yah setidaknya tidak seperti pengalaman saya yang pertama.

Namun, perhatian saya tertuju kepada ibu terakhir yang diperiksa sebelum giliran saya. Usia kandungan ibu hamil tersebut sudah masuk trimester ketiga. Ibu itu curhat jika anak keduanya ini posisinya mengkhawatirkan untuk bisa lahiran normal.

Tahu apa yang dikatakan bidan-bidan di ruangan itu? Saya mendengar salah seorang bidan berkomentar, “Ibu tenang saja, karena anak pertama kan lahiran normal, beratnya 4.7kg lagi, nah pasti yakin deh bu anak kedua juga normal. Kalau anak pertama saja normal apalagi anak kedua. Jangan khawatirkan hasil pemeriksaan USG.” Begitu kata bidan yang ada di ruangan tersebut. Saya hanya duduk menyimak tak jauh dari ibu hamil tersebut. Ia pun mendapatkan konsultasi dari bidan inti. Setelahnya ibu hamil tersebut pulang dan tibalah giliran saya.

Sekali lagi mereka bilang saya tidak bisa lahiran normal

Setelah tiba giliran saya, saya hanya disuruh ke laboratorium untuk cek darah itupun dengan nada ketus salah seorang bidan di ruangan itu. Sebelum ke Lab. tekanan darah saya diperiksa, berat badan kemudian lingkar perut. Kali ini saya dibaringkan di ruang khusus periksa lingkar perut. Tapi yang memeriksa saya hanya asisten bidan. Bidan inti yang bertanggung jawab memberikan konsultasi pergi entah kemana. Di sini saya kecewa berat seolah pasien dibedakan pelayanannya, padahal saya sangat butuh masukan dari bidan tersebut tentang kandungan saya.

Serius, semua prosedur saya ikuti agar mereka bisa melakukan pencatatan di buku pink tanpa ada saran positif yang membangun. Malah komentar menyakitkan dari salah satu bidan berucap, “Meskipun kamu lahiran normal anak pertama, belum tentu anak kedua normal.” Ya Allah, remuk hati saya. Segitu ketus dan menusuknya ucapan mereka, apa karena mereka melihat saya ini pendek?

Baik, sekalipun kalian meyakini teori yang kalian pelajari semasa menempuh pendidikan tapi tolonglah masih ada kalimat membangun yang jauh lebih beradab dibanding ucapan tersebut. Mengapa hanya saya? Pasien sebelum saya tidak kalian ucapkan seperti itu.

Ah dengan hati yang sedih bercampur kecewa saya ke ruang Lab. Untuk periksa darah. Di ruang Lab. pun sama, mereka hanya mengambil sampel darah, setelah hasilnya keluar, saya diberikan selembar kertas tanpa penjelasan apapun. Saya pikir mungkin bidan di ruang KIA-lah yang bertanggung jawab menjelaskan.

Tapi apa yang terjadi, setelah saya sampai di ruang KIA dan memperlihatkan hasil Lab. Sama saja, tanpa sepatah kata penjelasan apapun mengenai hasil Lab. Mereka menyuruh saya pulang. Bingung saya, kenapa semua hanya formalitas saja.

Setelah mencapai pintu keluar ruang KIA barulah bidan inti yang bertanggung jawab memberikan konsultasi memasuki ruangan. Dengan santainya dia duduk di dekat pintu melirik saya sembari berkata, “jangan makan nasi banyak.” Itu saja. Saya hanya melongo dan memaksa senyum getir.

Ah, saya menyesal datang memeriksa kandungan di tempat ini. Entah saja kebetulan selalu bertemu bidan yang menurut saya tidak layak disebut bidan atau mungkin merekalah yang pilih-pilih pasien mana yang mau dilayani dengan baik berdasarkan penampilan. Tapi semoga saja itu hanya prasangka buruk saya.

Saran untuk Puskesmas Tanete, Bukukumba

Sebelumnya saya sangat menghargai usaha para petugas medis dan staff pegawai yang telah bekerja dengan tekun di pkm Tanete, Bulukumba. Namun, sebagai saran agar kedepannya jauh lebih baik, tolong hal seperti ini jangan diabaikan khususnya dalam memberikan pelayanan terhadap ibu hamil tak peduli siapapun itu. Karena kami sebagai pasien bukan menginginkan fasilitas yang serba “wah” melainkan pelayanan yang tulus dari hati.

Sehingga tidak ada lagi ibu hamil seperti saya yang ketika meninggalkan Puskesmas Tanete, pulang dengan hati yang dirundung rasa sedih dan kekecewaan.

Reaksi Sahabat setelah saya curhat

Rupanya sahabat saya yang tinggal di Makassar juga mengalami hal serupa. Bedanya dia tidak diperiksa kandungan tapi sering datang ke Puskesmas untuk pemeriksaan kesehatan anak. Mirisnya, hampir semua Puskesmas yang didatangi ternyata memberikan pelayanan buruk.

Dari peristiwa seperti ini saya ingin berpesan secara pribadi kepada siapapun yang saat ini berprofesi sebagai tenaga medis, entah itu bidan, perawat atau dokter. Saya mengerti dan menghargai profesi kalian memang berat terutama di masa pandemi ini. Tapi tolong, tolong dengan sangat agar tidak membawa urusan pribadi ke Puskesmas atau rumah sakit sehingga dalam memberikan pelayanan kalian tidak lagi berkomitmen melayani setulus hati.

Percayalah, meski tanpa dibalas sepeserpun oleh pasien kalian, jauh dari lubuk hati pasien yang menerima kebaikan kalian akan selalu mendoakan kalian dalam sujudnya.

Ohiya itu dari sisi kritikan saya yah selama memeriksa kandungan. Sisi positifnya saya juga pernah mendapatkan pelayanan terbaik dari bidan yang memang profesional saat saya melahirkan anak pertama di Puskesmas Tanete, walaupun pada akhirnya saya dirujuk ke rumah sakit umum Bulukumba. Paling tidak selama kurang lebih 12 jam menunggu pembukaan lengkap, bidan yang menangani saya saat itu cukup telaten dan sabar. Terutama dokter kandungan yang datang pukul 19.00 dengan lembut memberikan saya semangat.

Demikian pengalaman periksa kandungan di Puskesmas Tanete, Bulukumba Sulawesi Selatan.

Terima kasih sudah mampir di blog Jurnal Mama, semoga bermanfaat…