Pengalaman melahirkan anak kedua — Trauma melahirkan? Iya, sejujurnya setelah melahirkan anak pertama saya cukup trauma melahirkan, karena saat melahirkan anak pertama saya nyaris dioperasi caesar. Belum lagi saat air ketuban pecah duluan dan lebih dari sepuluh jam, anak pertama saya baru lahir dengan selamat. Saya begitu bersyukur bisa melalui itu semua. Walau pada akhirnya menimbulkan rasa trauma, takut jika nanti saat mengandung saya akan mengalami kesulitan melahirkan lagi.

Belum genap usia satu tahun anak pertama, Tuhan menitipkan lagi janin dalam rahim saya. Memang, saya dan suami berencana memiliki anak lagi, dan impian kami anaknya laki-laki, itulah mengapa saya tidak mengambil KB setelah melahirkan. Namun, diluar dugaan kami, saya hamil dalam waktu yang begitu cepat. Perasaan saya saat itu jujur saja campur aduk. Bahagia dan sedih. Sedihnya karena saya cemas dan khawatir apakah saya siap atau tidak. Tapi, terlepas dari rasa tersebut, tentu saya merasa sangat bahagia karena dikaruniai anak lagi.

Pengalaman melahirkan anak kedua

Tidak ada drama mengidam

Hal mencengangkan saat saya hamil anak kedua adalah saya tidak mengidam macem-macem seperti anak pertama plus banyak drama pula. Malah rasanya biasa aja saat mengandung anak kedua. Hanya sekali saya merasa mual saat mengetahui bahwa saya positif hamil. Selebihnya biasa aja. Saya tidak pernah mual dan muntah, masih bisa mencium aroma bawang tumis, dan tidak banyak neko-neko mau makan ini dan itu. Barangkali anak kedua saya saat dalam kandungan paham kali yah tidak mau merepotkan ibunya, hehehe.

9 Bulan telah berlalu… Air ketuban itu pun pecah

Beda lagi situasi menjelang kelahiran anak pertama. Saat merasakan kontraksi, saya selalu panik bahkan nge-blank tidak tahu harus berbuat apa. Nah pas menjelang kelahiran anak kedua, saya jauh lebih siap. Tidak lagi panik setiap kontraksi datang. Malah saya selalu memberikan afirmasi positif terhadap diri sendiri dan berolahraga ringan agar rasa sakitnya berkurang.

Hal yang paling saya takutkan adalah air ketuban pecah duluan. Sekuat apapun saya menghindari hal tersebut saat merasakan kontraksi, nyatanya kira-kira menjelang dhuhur air ketuban merembes. Padahal saya rencana baru menghubungi bidan desa setelah dhuhur, karena saya masih bisa menahan kontraksi.

Tak lama kemudian, bidan desa saya pun tiba di rumah. Beliau memeriksa saya dan mengatakan baru pembukaan enam. Jantung saya berdetak kencang, oh tidak! Saya tidak ingin hal ini terulang kembali, dimana saat melahirkan anak pertama, saya menunggu pembukaan lengkap berjam-jam, namun ketika sudah siap melahirkan, setiap mengedan, posisi kepala bayi tidak ada kemajuan mendekati jalan lahir.

Akhirnya saya memutuskan agar dibawa ke klinik. Bidan desa sebelumnya memberikan saya opsi apakah ingin melahirkan di puskesmas, rumah sakit atau klinik. Saya berpikir sejenak dan akhirnya memutuskan ke klinik saja. Berhubung saat saya melahirkan masih pandemi, maka ibu hamil yang ingin melahirkan di rumah sakit harus di tes swap dulu untuk dipastikan tidak positif. Karena saya tidak mau ribet dan juga khawatir prosesnya akan lama sementara air ketuban saya sudah pecah, makanya saya memilih melahirkan di klinik saja.

Welcome my baby boy

Kira-kira satu jam sebelum memasuki waktu magrib, saya tiba di klinik. Ada hal yang tidak bisa saya lupakan selama perjalanan. Jujur jalanan di kampung suami saya itu jalannya rusak parah, sehingga saat naik kendaraan kita merasa terguncang-guncang. Bayangin aja saat saya berada dalam mobil dengan posisi sedikit berbaring, tubuh saya terguncang-guncang menahan sakit setiap kontraksi. Yang saya pikirkan saat itu adalah bagaimana dengan bayi yang ada dalam perut saya, mungkin juga terguncang-guncang kali yah, hehehe.

Tapi alhamdulillah bisa sampai di klinik dengan selamat. Petugas kesehatan di klinik tersebut dengan gercep menyambut saya dan membawa saya di ruang bersaling. Setelah pemeriksaan, saya begitu kaget ketika bidan yang memeriksa saya mengatakan sudah pembukaan lengkap, alhamdulillah saya begitu bersyukur karena tidak harus menunggu berjam-jam seperti anak pertama. Posisi kepala bayi pun sudah sangat dekat. Saya hanya perlu dituntun mengedan agar bayinya bisa keluar. Hanya saja proses mengedannya yang cukup menyita waktu karena saya kesulitan mengedan.

Tepat saat suami saya sholat magrib di ruang sebelah, anak kedua pun lahir dengan selamat, alhamdulillah. Perasaan saya lega seketika apalagi saat mendengar suara tangisan bayi saya. Hal pertama yang saya tanyakan apa jenis kelaminnya dan kata bidan, anak saya laki-laki.

Selagi anak saya dibersihkan, dokter di klinik tersebut menjahit saya. Yah karena saya banyak gerak saat melahirkan, akhirnya saya mengalami sedikit robekan, maka saya pun dijahit. Dulu, bidan yang menjahit saya, tapi sekarang dokter yang dikenal Bu Niar dengan ramah mengajak saya bercerita sambil dijahit.

Setelah beberapa saat, saya meminta bidan agar saya dapat melakukan IMD atau inisiasi menyusui dini. Saya ingin merasakan momen tersebut, karena pada saat anak pertama saya tidak merasakan IMD.

Anak saya diletakkan perlahan-lahan di dekat dada, sungguh jantung saya berdebar melihat bayi yang masih merah dan begitu mungil.

Tumbuh menjadi anak yang sholeh ya nak…

Esoknya, kami pun pulang ke rumah. Anak pertama saya awalnya tidak mau mendekat. Mungkin merasa asing melihat saya menggendong bayi. Namun, kami semua menyemangatinya dan membuatnya mendekati adiknya.

Harapan saya sebagai ibu tentu saja ingin melihat anak-anak tumbuh menjadi anak yang sholeh dan sholeha.

Itulah pengamalan melahirkan anak kedua yang saya sharing di blog kali ini, terima kasih sudah membaca sampai akhir…